Kita pernah menunggu pelangi sehabis hujan di malam hari. "Denganmu, aku mencintai kemustahilan", katamu...
Ada yang lebih tabah dari hujan, ialah diriku yang menunggu malam berpayung kesedihan...
Puisi sabar menunggu kekasihnya pulang. Di luar, angin berbisik pada pintu pagar; tak ada suara gerit dari tubuhmu malam ini...
Aku begitu erat dengan setia. Setabah air mata menghadapi kesedihan, seperti menunggu yang mati untuk kembali...
Kekasih, bukankah menunggu itu candu?" tanyamu sambil melangkah pergi, setelah meninggalkan jejak di pipi...
Dan purnama jadi teman, diantara bulir embun dingin, menunggu pagi, yang entah apa ada kamunya...
Cinta itu ada, sampai saat ini dia masih menunggu di dada. Sebelum luka menjadi penghuninya...
Rasa itu bukan rindu, jika tak mampu membuat sepasang kekasih menunggu: untuk saling bertemu...
Jika menunggu adalah takdirku, maka waktu adalah hidupku. Sebab kisahnya kupenuhi dengan napasku...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar